Jumat, 21 November 2014

Membawa DNA manusia ke Bulan

Misi eksplorasi Bulan yang dilakukan Lunar Mission One menarik minat masyarakat luas. Pasalnya, dalam misi tersebut, konsorsium asal Inggris itu melibatkan warga sipil dalam eksplorasi ke satelit alami Bumi tersebut.

Dengan membayar US$100, orang-orang dapat terlibat langsung dengan memberikan DNA (foto, video, atau sehelai rambut) mereka yang disimpan di kapsul kecil. Kemudian akan dibawa oleh sebuah robot ruang angkasa dengan rancangan khusus untuk dikuburkan di permukaan Bulan.


Dilansir kantor berita Reuters, Kamis 20 November 2014, tawaran dari Lunar Mission One tersebut tak disia-siakan oleh mereka yang berminat. Terbukti melalui situs Kickstarter, hingga penutupan Rabu kemarin, pendanaan yang digalang melalui situs tersebut mencapai 74 ribu pound dari target awal sekitar 600 ribu pound atau US$940 ribu dalam jangka satu bulan.

Artinya, saat ini Lunar Mission One sudah mengantongi sekitar 750 orang yang telah menyatakan keterlibatan mereka dalam misi eksplorasi ke Bulan tersebut.

Dengan ekspektasi yang tinggi tersebut, Lunar Mission One berharap dapat menutup total estimasi proyek yang telah mengucurkan dana sebesar 500 juta pound. Konsorsium tersebut mengatakan sebagian besar akan menggunakan strategi yang sama untuk meningkatkan pendapatan.

"Pemerintah saat ini semakin sulit mendanai eksplorasi ruang angkasa. Mereka memandang kemajuan pengetahuan manusia dan pemahamannya itu bertentangan dan dana eksplorasi itu harus kembali atau balik modal," ungkap insiyur Inggris sekaligus kepala misi tersebut, David Iron.

Robot ruang angkasa tersebut akan mengangkasa dengan bantuan roket komersil, Roket Falcon 9. Setelah mencapai dan mendarat di permukaan Bulan, robot tersebut akan melakukan pengeboran sedalam 100 meter, dimana setiap 15 sentimeter akan diambil untuk dianalisa.

Sampel Bulan tersebut bertujuan untuk mencari informasi mengenai kemungkinan satelit alam ini jadi tempat layak huni oleh manusia di masa mendatang. Program tersebut dirancang oleh seorang insiyur sekaligus ilmuwan dari University College London yakni Brian Cox.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar