Minggu, 23 November 2014

Kita tidak sendiri , peneliti meyakinkan kita ada kehidupan lain di alam semesta ini

Kalau Anda membayangkan alien sebagai makhluk dengan kecerdasan tinggi, jangan kecewa bila ternyata kehidupan asing itu hanyalah mikroba, paling tidak itulah yang ditemukan ilmuwan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

Makhluk yang ditemukan itu tidak mempunyai kepala lonjong, berkulit hijau, atau mata hitam besar menakutkan seperti alien yang sering digambarkan dalam film fiksi ilmiah. Namun bakteri ini adalah bukti adanya kehidupan asing di luar bumi kita, dan yang mengagetkan, bentuknya mirip organisme di Bumi.



Begitulah kesimpulan Dr Richard B. Hoover, seorang ahli astrobiologi NASA di Marshall Space Flight Center, Alabama, yang merilis temuannya dalam Journal of Cosmology, jurnal yang telah dievaluasi secara ilmiah, akhir pekan lalu.

Selama 10 tahun, Hoover telah menjelajahi daerah terpencil di Antartika, Siberia, dan Alaska untuk mengumpulkan serta mempelajari meteorit.
 Fosil bakteri alien itu ditemukan Hoover dalam meteorit kategori amat langka yang disebut CI1 carbonaceous chondrite. Hanya sembilan meteorit dari kelas itu yang ditemukan jatuh ke bumi.

Meski sulit dipercaya, Hoover meyakinkan bahwa temuannya mengungkap fosil itu bukti adanya bakteri yang hidup dalam meteorit, sisa-sisa organisme hidup yang ada kemungkinan berasal dari komet, bulan, dan benda langit lainnya. "Temuan itu mengisyaratkan bahwa kita tidak sendirian di alam semesta ini," katanya. "Saya menginterpretasikannya sebagai indikasi bahwa kehidupan tersebar lebih luas daripada terbatas hanya di planet Bumi. Bidang studi ini nyaris tak ada yang menyentuh karena, sejujurnya, banyak ilmuwan yang percaya hal ini mustahil."

Menggunakan suatu proses yang sangat sederhana, Dr Hoover memecahkan batu meteorit itu dalam lingkungan steril sebelum memeriksa permukaan yang baru dipecahkan tersebut di bawah mikroskop pemindai elektron dan sebuah mikroskop pemindai elektron medan emisi. Peralatan standar itu membantunya memeriksa setiap milimeter permukaan batu untuk mencari bukti fosil alien.

Dia menemukan fosil mikroorganisme itu tidak terlalu berbeda dari bakteri yang ditemukan di bawah kaki kita. "Yang menarik, dalam banyak kasus, mereka dapat dikenali dan bisa diasosiasikan dengan spesies generik di Bumi," kata Hoover. "Tapi ada juga yang sangat aneh dan tidak terlihat seperti bakteri apa pun yang pernah saya identifikasi. Saya telah menunjukkannya kepada banyak pakar lain, namun mereka juga bingung."

Ilmuwan lain menyatakan bahwa implikasi dari riset ini sangat menggemparkan, mendeskripsikan temuan itu sangat penting, pelik, dan luar biasa. Tapi Dr David Marais, ahli astrobiologi NASA di AMES Research Center, menyatakan bahwa dia sangat berhati-hati sebelum mendukung temuan itu. Klaim penemuan makhluk asing semacam itu sudah pernah terjadi sebelumnya, dan ternyata palsu. "Ini adalah klaim yang luar biasa, karena itulah saya membutuhkan bukti yang luar biasa pula," kata Marais.

Menyadari bahwa studi ini akan mengundang kontroversi, jurnal Cosmology mengundang sejumlah anggota komunitas ilmiah untuk menganalisis hasilnya serta menulis kritik mengenai temuan itu. "Kami mengundang 100 pakar dan menyebarkan undangan umum kepada lebih dari 5.000 ilmuwan dari komunitas ilmiah untuk mengevaluasi makalah itu dan untuk menawarkan analisis kritis mereka," kata Dr Rudy Schild, ilmuwan di Pusat Astrofisika Harvard-Smithsonian, pemimpin redaksi Journal of Cosmology.

Pada pernyataan resminya di jurnal itu, Schild menyatakan bahwa belum pernah ada makalah lain dalam sejarah ilmu pengetahuan yang menjalani penyaringan menyeluruh seperti temuan Hoover. "Sebelumnya juga tak ada komunitas ilmiah yang diberi kesempatan untuk menganalisis secara kritis sebuah makalah riset sebelum makalah itu dipublikasikan," tulisnya.

Dr Seth Shostak, astronom senior di SETI Institute, mengatakan ada setumpuk keraguan untuk mempercayai publikasi semacam itu. Jika benar, implikasinya akan merambat jauh ke berbagai bidang ilmu pengetahuan dan astronomi. "Mungkin kehidupan dibenihkan di Bumi; dia dikembangkan di komet, misalnya; dan mendarat di sini ketika meteorit menghantam Bumi muda," kata Shostak. "Temuan itu mengindikasikan bahwa kehidupan tidak benar-benar bermula di Bumi, melainkan dimulai ketika tata surya mulai terbentuk."

Keraguan untuk mempercayai klaim baru itu sesuatu yang umum, kata Hoover, dan memang sangat diperlukan dalam sains. "Sering kali perlu masa yang lama sebelum para ilmuwan mulai mengubah pikiran mereka terhadap apa yang valid dan mana yang tidak," ujarnya. "Saya yakin akan ada banyak sekali ilmuwan yang sangat skeptis dan itu OK."

Hingga riset Hoover itu diverifikasi secara independen, Marais mengatakan temuan tersebut harus dianggap sebagai memiliki potensi tanda kehidupan. "Para ilmuwan akan mengangkat riset ini ke tingkat investigasi berikutnya, termasuk konfirmasi independen terhadap hasil temuan itu oleh laboratorium lain, sebelum temuan tersebut dapat diklasifikasikan sebagai tanda kehidupan yang telah dikonfirmasi," ujarnya.

Hoover menyatakan tidak khawatir atas proses tersebut dan terbuka untuk penjelasan lain. "Jika seseorang dapat menjelaskan bagaimana mungkin menemukan sisa-sisa kehidupan yang tak mempunyai nitrogen, atau nitrogen di bawah batas yang dapat dideteksi seperti yang saya miliki, dalam periode waktu sesingkat 150 tahun, saya akan sangat tertarik mendengarnya," kata Hoover. "Saya telah berbicara dengan banyak ilmuwan mengenai hal ini dan tak seorang pun mampu menjelaskan."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar